Menghadirkan Kembali Semangat Quran di Tenggara Maluku

ibbq_tual_juli_850X550

Perjalanan kami ke Kota Tual dimulai sejak Kamis pagi tanggal 19 Juli 2018. Dengan mengerahkan 4 orang kru. Tim IBBQ (Indonesia Bisa Baca Quran) mulai berangkat dari bandara Soekarno-Hatta menuju Makassar sebagai trasit sementara. Setelah itu penerbangan berlanjut ke Bandar Udara Pattimura Ambon dan terbang lagi dengan pesawat kecil ke Kota Tual.

Sesampainya Tim IBBQ di Kota Tual, kami yang bekerjasama dengan kawan-kawan FROMKEI (Forum Tokoh dan Ummat Islam Kei) disambut dengan baik menuju tempat istirahat. Kelelahan setelah penerbangan yang banyak transit membuat kami merasa harus bersegera memberikan hak tubuh ini, karena rencana kami esok hari dan seminggu ke depannya akan melaksanaan kelas IBBQ di beberapa tempat terpisah pulau di daerah Kota Tual, di Tamedan, Danar dan Pulau Dulah Laut.

 

Pariwisata dan Terlupakannya Etika

Pekerjaan kebanyakan penduduk di kepuluan tenggara kepulauan Maluku ini adalah nelayan. Sehingga untuk mengumpulkan peserta cukup memakan waktu karena jarak tempuh dan pekerjaan melaut tadi. Latar belakang nelayan sebagai pekerjaan yang tak seberapa cukup menghasilkan ini, sedikit menggoda untuk berhenti dibandingkan dengan banyaknya fasilitas pariwisata yang begitu menjamur di pulau-pulau sekitar Kota Tual dan menjadi bagian dari layanan pariwisata.

Dalam suatu kesempatan, Tim mengobrol dengan salah satu tokoh masyarakat di sana, mereka berpendapat bahwa kondisi yang tak seimbang ini cukup menakutkan masa depan generasi setelah mereka. Dengan perkembangan daerah (khususnya pariwisata) di sana yang seolah menghilangkan banyak kebiasaan dan etika yang telah dijaga cukup lama seperti kesopanan busana dan gaya hidup. Mereka khawatir terhadap kebiasaan turis, khususnya turis mancanegara yang mengabaikan etika berpakaian di sekitar pantai.

 

Listrik dan Air

Ada juga kejadian menarik di Dullah Laut. Ketika Tim IBBQ akan menggunakan perangkat elektronik seperti LCD Projector dan Laptop, ternyata listrik yang dibutuhkan tidak mencukupi. Akhirnya dengan dibantu oleh panitia lapang dan masyarakat sekitar Tim menggunakan Genset sebagai sumber listrik selama aktivitas pelatihan. Usut punya usut, ternyata penduduk Dullah Laut belum tercukupi pasokan listriknya, sehingga menggunakan panel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka. Itu pun hanya cukup untuk penerangan standard sehari-hari. Jadi barang elektronik yang membutuhkan daya cukup besar  tidak dapat dipakai setiap hari.

Kisah tak berhenti di situ. Walaupun menggunakan tenaga surya sebagai pemasok kebutuhan listrik, namun hal tersebut  cukup berguna jika diimplementasikan selama musim panas. Lain ceita jika di musim penghujan datang, penduduk Dullah Laut justru lebih sibuk untuk mengumpulkan air hujan sebagai pasokan air selama musim ke depan karena ketersediaan air bersih di pulau ini juga tak seberapa banyak. Jadi, kami Tim IBBQ sungguh miris sekaligus takjub melihat fenomena ini , di satu sisi melihat keterbatasan layanan pemerintah untuk memenuhi hak atas kekayaan energi masyarakatnya kurang begitu baik. Namun di sisi lain sungguh takjub melihat kuasa Allah SWT menghadirkan musim-musim yang berganti untuk disyukuri manfaat kehadirannya.

 

Komunitas Muslim yang Serba Tertinggal

Agaknya bukan hanya soal kesejahteraan saja yang kami soroti selama perjalanan panjang di tenggara Maluku ini. Ada semangat berislam yang hilang di sebagian besar muslimin Maluku, terutama pulau-pulau kecilnya. Meskipun mayoritas penduduk dikatakan beragama Islam, namun jika dibandingkan dengan daerah berpenduduk muslim di kepulauan lain di Timur Indonesia, seperti Maluku Utara ataupun Nusa Tenggara Barat,  tak cukup terasa ada suasana Islam di Tual dan pulau sekitarnya.

Contoh kecil saja, ada suatu perkampungan di Tual yang memiliki masjid yang tidak pernah mengadaka Ibadah Sholat Jum’at. Hal ini bukan lantaran penduduk lelaki muslimnya kurang dari 40 orang atau agama Islam minoritas, bahkan sebaliknya. Meski Islam agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk Tual, namun Islam tidak hadir di sendi-sendi kehidupan mereka, bahkan hal sederhana semacam meramaikan masjid saja jadi masalah cukup berat.

Di daerah Danar, ujung selatan Kota Tual kondisi Ummat Islam di sana juga cukup mengkhawatirkan. Sama halnya seperti perkampungan di Kota Tual tadi, dengan kondisi secara jumlah muslim lebih banyak, namun secara fasilitas pendidikan dan keagamaan kalah bersaing dengan masyarakat Katolik dan Protestan di sana. Tak sedikt orangtua muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah milik lembaga Katolik dan Protestan di sana. Para orangtua itu berfikir fasilitas pendidikan yang baik, akan menghasilkan masa depan yang baik untuk anak-anaknya. Tak salah memang, namun mestinya juga  jadi cermin pembelajaran tersendiri bagi lembaga pendidikan dan keagamaan Islam untuk terus memberikan layanan yang lebih baik bagi ummatnya. Tantangan dakwah hadir untuk meminta jawaban dan perbaikan, bukan untuk membuat semakin rendah diri.

Alhamdulillah aktivitas Tim IBBQ (Indonesia Bisa Baca Quran)  selama hampir 10 hari di Kota Tual dan kepulauan sekitarnya, telah berhasil menyelenggarakan 15 kelas pembebasan buta aksara Quran. Setiap kelas berisikan tidak kurang dari 25 orang. Sehingga kurang lebih penerima manfaat dalam aktifitas kami di Tual dapat mencapai 400 orang. Tentunya itu masih sebagian kecil muslimin di Tual.

Akhirnya, aktivitas program IBBQ di Tual selesai pada 28 Juli 2018 dengan penuh perjuangan dan pergulatan kerinduan. Terimakasih tentunya kami ucapkan kepada para donatur dan Sahabat Cinta Quran lainnya yang telah peduli menyisihkan sedikit rizkinya untuk menyukseskan program pengentasan buta aksara Quran di seluruh Indonesia ini. Semoga pahala dan keberlimpahan rezeki diberikan oleh Allah SWT , Dzat Yang Maha Memberi Rizqi. (/fdl)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on print
Print

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *