Ikhtiar Sang Napi Mengenal Quran dari Balik Jeruji

ibbq cirebon dan indramayu 01
IBBQ di Pantai Utara

Setelah hampir 3 bulan sebelumnya mengadakan pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran di Cirebon, Juli lalu Tim IBBQ kembali mengunjungi daerah di utara pulau Jawa itu.  Untuk ke-4 kalinya Cinta Quran Foundation mengadakan pelatihan bagi buta aksara Quran di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon, Jawa Barat. Program pelayanan masyarakat muslim ini, Alhamdulillah selalu berjalan lancar dan dengan respon positif dari pengelola Lapas.

Pada kunjungannya yang ke-4 di Lapas kelas I Cirebon ini, Tim IBBQ mulai berangkat bersama 4 orang kru sejak Jum’at sore tanggal 27 Juli 2018. Perjalan yang menempuh tak kurang dari 250 kilometer ini berjalan lancar dan kru sampai sekitar pukul 7 malam di Cirebon. Setelah mempersiapkan beberapa perangkat penunjang pelatihan, Tim segera mengistirahatkan diri dikarenakan training Indonesia Bisa Baca Quran akan diselenggarakan pada Sabtu paginya hingga sore hari.

Pada Sabtu 28 Juli keesokan harinya, Tim segera berangkat ke Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon dengan mobil. Berdasarkan jumlah peserta pelatihan yang mengikuti, kami membuka 2 kelas pelatihan di tempat yang letaknya tidak begitu berjauhan. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dalam 2 kelas pelatihan ini berjumlah 55 orang, dengan rincian 30 orang di kelas pelatihan pertama dan 25 orang di kelas pelatihan kedua. Pelatihan IBBQ Alhamdulillah dapat dimulai pukul 10 pagi hingga selesai sebelum azan Ashar sore harinya.

 

Semangat Qurani Sang Napi

Kisah hijrah tak melulu datang dari lingkungan kajian, masjid, sekolah, komunitas atau kampus dengan kebebasan mendapatkan hikmah darinya. Namun tak jarang kisah hijrah juga datang dari lingkungan yang penuh keterbatasan akses pengetahuan dan ilmu Islam, contohnya seperti lembaga pemasyarakatan. Sebagai konsekuensi karena perbuatan melanggar hukumnya, para narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan hanya mendapatkan fasilitas dan layanan standard seperti makan, minum, tidur, ibadah dan lainnya yang disediakan oleh negara.

Adalah Agus Nugroho, seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon, yang dengan kemuan yang kuat untuk memperbaiki bacaan Qurannya selama di balik jeruji besi. Tak hanya itu, pria asal Majalengka ini, dipercaya oleh petugas lapas untuk mengajak dan mengajar mengaji narapidana lainnya di Lapas kelas I Cirebon. Bahkan ia dengan inisiasi pribadinya pula belajar beberapa do’a harian dan mengajarkan hafalan-hafalan do’a tersebut kepada kawan-kawannya sesama narapidana.

Pak Agus sebelumnya sama sekali tidak dapat membaca aksara Quran. Namun setelah mendapatkan pelatihan dari Tim Indonesia Bisa Baca Quran yang diselenggarakan Cinta Quran Foundation pada Ramadhan 3 bulan lalu, ia mulai memahami dan mulai dapat membaca Quran. Meski belum terlalu lancar, semangat pria berumur 46 tahun ini tidak mudah patah arang. Agar terus menjaga semangatnya memperbaiki dirinya, Pak Agus juga mengajak kawan-kawan napi lainnya untuk belajar Quran selama di Lapas. Bahkan semangat Pak Agus tidak terhenti di situ saja, ia yang rencananya akan bebas pada akhir Agustus ini, bercita-cita mulia untuk mengadakan Pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran untuk masyarakat muslim di kampungnya, Majalengka.

 

Training Baca Quran Para Ibu di Indramayu

Tim Indonesia Bisa Baca Quran belum selesai tugasnya di Sabtu akhir pekan. Tak hanya Lapas kelas I Cirebon yang diselenggarakan Pelatihan Baca Quran, namun Ibu-ibu di suatu desa di Indramayu juga mendapatkan kesempatannya belajar memperbaiki bacaan Qurannya bersama Tim.

Penyelenggaraan Pelatihan IBBQ Indramayu kali ini diadakan di suatu gedung Taman Anak-anak di daerah Pabean Udik. Pada awalnya kami akan membuka 2 kelas pelatihan, namun karena jumlah peserta yang pada hari H penyelenggaraan terkonfirmasi tak lebih dari 40 orang, maka Tim hanya membuka 1 kelas pelatihan. Meski hanya dibuka 1 kelas pelatihan dan fasilitas tempat yang sederhana, tak menyurutkan kemauan para Ibu di kampong Pabean Udik ini untuk mengikutinya.

Peserta pelatihan sebenarnya dibuka untuk umum, pria dan wanita, namun karena kesibukan para Lelaki yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan menyebabkan pelatihan hanya dipenuhi oleh para Wanita saja. Para warga yang berprofesi sebagai nelayan ini bisa menempuh sekitar 1 – 2 bulan untuk sekali melaut sehingga bisa dikatakan tak banyak waktu untuk hadir bersama keluarga atau juga memperdalam ilmu agama.

Obrol-obrol dengan para penduduk kami mendapatakan kondisi masyarakat muslim yang masih banyak belum lancar membaca Quran, mulai dari anak SMA, para orangtua dan bahkan Mahasiswa dan pemudanya. Yang lancar membaca Quran justru kebanyakan adalah anak SD atau umur awal SMP. Hal ini dikarenakan anak-anak yang mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Quran) kebanyakan berumur 6-12 tahun. Minimnya pengajaran agama Islam di lingkungan ini juga menjadi salah satu perhatian kami untuk membuka kelas pelatihan IBBQ di desa nelayan ini. Besar harapan kami semoga dengan adanya pelatihan IBBQ, masyarakat Pabean udik dapat membuka mata bahwa kondisi pendidikan Islam di desa juga sedang merosot, sehingga memiliki kesadaran akan pentingnya menghidupkan kembali semangat membaca serta mengamalkan Quran dalam kehidupan sehari-harinya.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on print
Print

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *