Cahaya Quran di Dusun Sabura – Pinrang

Cahaya Quran di Dusun Sabura – Pinrang

Tim Cinta Quran Foundation yang mengusung program #indonesiabisabacaquran dianugerahi kesempatan untuk mengunjungi saudara-saudara muslim kita di Desa Pinrang, Sulawesi Selatan.⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Kondisi saudara kita di Desa Pinrang memang sangat memprihatinkan. Akses jalan yang hanya bisa ditempuh dengan kendaraan offroad, begitupun dengan akses ke dusun lain, harus menggunakan motor trail karena lebar jalan hanya cukup untuk 1 kendaraan roda dua dan harus melewati beberapa sungai kecil. Ditambah belum ada aliran listrik yang masuk ke daerah mereka, sehingga untuk proses belajar tim harus menggunakan genset.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Terlepas dari keadaan itu, saudara kita tetap mengikuti pelatihan dengan semangat dan antusias. Banyak dari para peserta yang awalnya tidak mengenal huruf hijaiyah sama sekali akhirnya bisa membaca Al-Quran. Haru dan bahagia pun terlihat mewarnai sesi akhir pelatihan.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Antusiasme Di Luar Dugaan

Antusiasme Di Luar Dugaan

Biasanya dalam standard kelas pelatihan baca Quran IBBQ, kami membatasi jumlah peserta dalam satu kelas paling banyak 25 orang. Namun ada kisah unik ketika kami menyelenggaran pelatihan baca Quran IBBQ di ruang serbaguna sementara Masjid Agung Palu. Antusiasme dan semangat menuntut ilmu dari pada warga sekitar menjadi kisah tersendiri dari terlaksananya pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran di Palu.

Seperti halnya di daerah-daerah tempat terselenggaranya IBBQ lainnya, kami bekerjasama dengan yayasan atau komunitas lokal sebagai tim teknis pelaksanaan. Tak terkecuali di Palu. Sebelum pemberangkatan tanggal 1 Februari lalu, kami berkoordinasi dengan tim teknis setempat, yakni Ustadz Sardi.

Sebelum hari pelaksanaan, kami meminta beliau untuk membagikan 20 form pendaftaran calon peserta. Ternyata saat di hari H pelaksanaan di Masjid Agung, ada sebagian calon peserta yang memfotokopikan form pendaftaran tersebut dan mengajak beberapa kawannya hingga terkumpullah data terdaftar 35 orang. Sebuah antusiasme yang luar biasa.

Tak sampai di situ saja, ternyata banyak peserta yang berdatangan tanpa form selagi kegiatan pelatihan sedang berlangsung, sehingga data terakhir yang tercatat hadir mencapai 54 orang. Bahkan karena trainer kami mengadakan 1 kelas lain di daerah Sigi, serta buku panduan IBBQ yang disediakan hanya untuk 25 orang, beberapa peserta menjadi merasa kurang nyaman dengan kelas yang terlalu ramai ini.

Namun, meski dengan kondisi yang di luar dugaan itu, panitia dan Tim IBBQ Cinta Quran Foundation tetap memberikan kesempatan untuk seluruh hadirin mendapatkan materi-materi pelatihan sebagai mana telah direncanakan. Hal ini dikarenakan kami menghargai upaya dan semangat para hadirin tersebut untuk hadir dalam majelis ilmu.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan dalam pelaksanaannya, Alhamdulillah, Training Baca Quran IBBQ yang pada hari Sabtu, 2 februari 2019 tersebut dapat terselenggara dengan baik tanpa hambatan yang cukup berarti. Peserta yang hadir pun merasa puas dan sungguh senang dengan diadakannya kegiatan yang kembali mengingatkan mereka terhadap pentingnya Quran bagi kehidupan. (/fdl)

Spirit Kebangkitan Quran di Tengah Kristenisasi Malang Selatan

Spirit Kebangkitan Quran di Tengah Kristenisasi Malang Selatan

Umat Islam di manapun berhak untuk mendapatkan pencerahan dengan Al-Quran, termasuk para warga dan muallaf di Desa Sumber Tangkil dan Dusun Lenggoksono, Malang.

Berdasarkan data desa, pada medio 2018 jumlah pemeluk agama Islam memang minoritas di dusun Lenggoksono. Namun ummat Islam mendapatkan spirit yang sangat menakjubkan untuk kembali menghidupkan proses belajar Al-Quran di desa.

Pada tanggal 27 Januari 2019, berlokasi di Kabupaten Malang, tepatnya di Desa Sumber Tangkil dan Dusun Lenggoksono, Cinta Quran Foundation berkerjasama dengan Yayasan Inqilabi, alhamdulillah berkesempatan menyelenggarakan training baca Quran.

Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 30-40 orang yang terdiri dari peserta pria dan wanita. Secara usia, para peserta merupakan warga muslim paruh baya yang berumur dari 30 hingga 60an tahun. Penempatan kelas dilaksanakan secara terpisah antara peserta pria dan wanita.

Dalam pelaksanaanya, pelatihan baca Quran ini tentu tidak berjalan mulus begitu saja, banyak kendala yang dihadapi Tim IBBQ. Salah satu kendala yang cukup menjadi hambatan terlaksananya pelatihan IBBQ adalah karena kegiatan ini sempat mendapat penolakan dari tokoh dusun Lenggoksono.

Meskipun begitu, alhamdulillah hal ini bukan menjadi tembok penghalang yang berkepanjangan untuk Tim IBBQ, akan tetapi ini menjadi penyemangat para tim untuk melaksanakan pelatihan baca Quran.

Karena menurut data desa pada medio tahun 2018 jumlah muslim di dusun tersebut berkisar 40% dan sisanya berkisar 60% warga beragama Kristen. Belum lagi mereka terkadang masih harus dihadang oleh bahaya pemurtadan dan minimnya pengetahuan mereka tentang Al-Quran.

Dan barulah pada akhir tahun 2018, terjadi peningkatan masyarakat yang memeluk islam, dari tadinya sekitar 40% meningkat menjadi 60%, bahkan di akhir kelas ada salah seorang bapak bernama Pak Misran mengungkapkan harapan yang besar kepada Tim IBBQ untuk melalukan hal yang serupa di desanya lagi.

Pak Misran bertekad akan membantu menyediakan 10 kelas untuk selanjutnya, karena beliau sadar bahwa program dan metode dengan cara ini sangat mudah dimengerti dan dipahami terutama oleh orang dewasa.

Semoga semangat Pak Misran menjadi semangat kita untuk terus mendukung Program ini , demi mewujudkan Indonesia Cinta Quran. (/is)

Belajar Islam, Lalu Belajar Baca Quran

Belajar Islam, Lalu Belajar Baca Quran

Hidayah Islam bagi seorang mullaf memang seringkali menuntun konsekuensi. Konsekuensi yang dimaksud ini tidak hanya tentang konsekuensi ujian saja, semisal hilangnya pekerjaan, renggang hubungan dengan keluarga, dan sebagainya. Konsekuensi lainnya adalah tentang meningkatkan kapasitas dasar sebagai seorang muslim di usia dewasa.

Bagi seorang muallaf, apalagi yang masuk Islam di usia dewasa, membuatnya mesti lebih cepat belajar karena secara hukum fiqh sudah memilik kewajiban berbagai ibadah fardhu.  Pengetahuan Islam yang utama dan harus cepat dipelajari adalah sholat dan berwudhu. Setelah itu, membaca aksara Arab dalam AlQuran dan referensi dalil lainnya menjadi bagian penting  untuk memperdalam berbagai ilmu serta khazanah Islam.

Pada Ahad 18 November lalu, Tim Indonesia Bisa Baca Quran (IBBQ) Cinta Quran Foundation menyelenggarakan kelas untuk para muallaf. Bertempat di Masjid Al-Aqsa perumahan De Latinos, BSD City, 20 muallaf binaan Muallaf Center mengikuti kelas IBBQ.  Peserta yang hadir terdiri dari 7 muallaf pria dan 13 muallaf wanita dari  berbagai daerah di sekitar Jabodetabek.

Acara pelatihan IBBQ ini dimulai pukul 09.00 WIB oleh master trainer Ustadz Harun Al-Rasyid. Dengan antusias, para peserta mengikuti pelatihan membaca Quran. Menurut pengakuan sebagian besar peserta, mereka baru pertama kali belajar dan mengenal aksara Arab di pelatihan ini. Meskipun  begitu, bi idznillah, dengan semangat belajar yang tinggi para peserta muallaf mulai mengenal huruf dengan mudah.

Semoga langkah awal para peserta untuk memperlajari Quran ini menjadi saksi keseriusan mereka untuk mengenal dan memperkuat keislamannya. Dan juga Cinta Quran Foundation dengan program IBBQ ini dapat terus membantu meluaskan kecintaan Quran kepada ummat di seluruh dunia, terlebih di penjuru nusantara yang membutuhkan. (/fdl)

Belajar Baca Quran di Lapas Gunung Sindur

Belajar Baca Quran di Lapas Gunung Sindur

Alhamdulillah, Program Indonesia Bisa Baca Quran begitu luas diterima dan semakin dibutuhkan oleh masyarakat di segala penjuru negeri. Tak terkecuali para narapidana yang pernah melakukan perbuatan kriminal di hari-hari terdahulunya, ingin juga kembali mengenal Quran.  Bahkan program IBBQ yang berjalan di lembaga-lembaga pemasyarakatan merupakan permintaan langsung dari Kepala Lapas terkait.

Tim IBBQ Cinta Quran Foundation pada tanggal 19 November 2018, kembali dipercaya menyelenggarakan training membaca Quran di Lembaga Pemasyarakatan. Tepatnya di Lapas Gunung Sindur, Kabupaten Bogor , Jawa Barat. Meski ini bukan pertama kalinya, IBBQ yang dilaksanakan di Lapas Gunung Sindur ini dihadiri oleh mayoritas peserta yang baru pertama kali mengikuti training membaca Quran.

Agenda training IBBQ dimulai pada pukul 9 pagi. Pada kegiatan kali ini, sebanyak 60 peserta dibagi ke dalam 2 kelas berbeda. Satu kelas dihadiri 25 orang peserta, sedangkan kelas yang lainnya dihadiri sebanyak 35 orang peserta karena luas ruangan yang tidak sama. Alhamdulillah, persiapan kegiatan yang telah dilakukan sejak jam setengah 8 pagi ini, dibuka dengan lancar di kedua kelas tersebut.

Tiba kemudian waktu makan siang sekaligus sholat dzuhur berjama’ah. Para peserta dan juga trainer dan segenap kru IBBQ melaksanakan sholat berjama’ah di Masjid Lapas. Saat waktu makan siang, para peserta mengobrol bersama kru IBBQ sembari menikmati santapan yang disediakan. Para peserta yang juga kesemuannya adalah narapidana itu menceritakan betapa senangnya mereka kembali dapat bisa belajar Quran. Walau pun di dalam Lapas disediakan Quran dan bacaan lainnya, mereka jarang yang mau membaca. Dengan izin Allah SWT, kedatangan Tim IBBQ dari Cinta Quran Foundation ini kembali membuat para napi ini bersemangat kembali untuk membaca Quran serta memperbaiki bacaanya Quran mereka.

Setelah sholat dan makan siang, akhirnya Training baca Quran IBBQ kembali dilanjutkan. Para peserta secara interaktif diminta mengulangi yang mereka pelajari di sesi awal tadi. Pelatihan berlanjut hingga pukul 3 sore dan ditutup dengan sesi Wifle, yakni mengungkapkan kesan mereka terhadap pelatihan serta resolusi mereka ke depannya untuk kembali bersemangat belajar membaca Quran. (/fdl)

Lombok, Kami Kembali

Lombok, Kami Kembali

Recovery Mental dan Pelatihan Baca Quran

Salah satu peran yang seringkali diisi oleh Cinta Quran Foundation di daerah terdampak bencana adalah menghadirkan keceriaan sembari mengembalikan semangat hidup pada korban. Untuk mewujudkan hal tersebut, Cinta Quran Foundation menyelenggarakan program mental recovery di tenda-tenda pengungsian atau tempat lainnya di mana korban terkonsentrasi. Barulah selepas mental recovery tersebut, kami menyalurkan bantuan yang dipercayakan oleh para donatur Sahabat Cinta Quran kepada kepala keluarga atau perwakilan masing-masingnya.

Tak hanya itu, jika momen waktu, persiapan dan tempatnya tepat, kami juga menyelenggarakan program Indonesia Bisa Baca Quran (IBBQ) secara cuma-cuma untuk para korban. Dan setelah pertama kalinya kunjungan pasca  bencana gempa agustus 2018 lalu ke Lombok, untuk kunjungan kedua kalinya, Cinta Quran Foundation memberangkatkan Tim Program IBBQ untuk mengadakan mental recovery dan membuka kelas training IBBQ.

Pada Selasa tanggal 30 Oktober 2018, Tim IBBQ membuka 2 kelas training baca Quran yang dihadiri 50 orang lebih di daerah Teniga. Setelah itu bersama pengungsi lainnya sebanyak 60-70 orang berkumpul di dekat masjid yang terdampak gempa. Di sana diadakan program mental recovery class untuk menyemangati kembali para korban agar kuat menyikapi bencana ini. Akhirnya, Tim selesai mengadakan seluruh kegiatan pukul 4 sore,

Esok harinya, Rabu 31 Oktober 2018, Tim IBBQ pergi ke Lombok Timur dan kembali membuka 2 kelas training Indonesia Bisa Baca Quran. Kelas ini juga dihadiri 50 orang lebih sebagai peserta. Satu kelas dibimbing oleh Ustadz Asep Supriatna dan satu kelas lainnya dibimbing oleh Ustadz Abdullah Ramli. Setelah kelas, diadakan juga penyaluran bantuan dalam bentuk sembako dari Cinta Quran Foundation kepada para warga.

 

Dukungan Pemerintah Sumbawa

Pada Kamis, 1 November keesokan harinya, dengan menaiki kapal Feri selama hampir 2 jam lamanya, Tim IBBQ akhirnya sampai ke pulau Sumbawa. Di sana Tim IBBQ bertemu dengan tokoh pemerintahan setempat; Sekretaris daerah Kabupaten Sumbawa beserta jajarannya. Beserta beberapa tokoh agama Islam dan Perwakilan Kementerian Agama di daerah, Tim Cinta Quran Foundation mengutarakan tujuan kedatangan serta memperkenalkan program Indonesia Bisa Baca Quran. Alhamdulillah.. ternyata pemerintah kabupaten Sumbawa juga memiliki program yang sama, yakni pengentasan buta baca Al-Quran. Sehingga dengan kehadirannya, Tim IBBQ  mendapat tanggapan postitif dari pemerintah setempat.

Walau pun tidak mengadakan kelas IBBQ di Sumbawa, dengan dukungan dari pemerintah dan bantuan dari mitra kami, Baituttamkiin, pada 2 November Tim IBBQ menuju Taliwang di Sumbawa Barat untuk mengadakan kelas mental recovery. Peserta yang hadir cukup banyak, yakni sekitar 70an orang lebih dan diisi oleh Ustadz Asep Supriatna.

 

Hujan, Rezeki Langit

Selama Tim IBBQ di Lombok dan Sumbawa, memang cuaca sungguh terik. Bahkan malam hari juga terasa hawa tak begitu nyaman. Menurut pengakuan masyarakat setempat, daerah mereka selama 6 bulan terakhir sama sekali belum turun hujan. Kondisi tanah di jalanan pun memang nempak begitu kering. Namun pada hari terakhir Tim IBBQ di sana, sebelum berangkat pulang 3 November esok harinya hujan lebat terjadi di Lombok. Alhamdulillah wa syurkurillah.. kita medo’akan bersama semoga hujan ini menjadi pertanda rezeki dan kebaikan bagi kehidupan Qurani di Lombok, Sumbawa dan sekitarnya.

Menguatkan Semangat Palu Bangkit Kembali

Menguatkan Semangat Palu Bangkit Kembali

Teguran Selepas Adzan

Tepat setelah adzan maghrib berkumandang di kota Palu, pukul 18.02 WITA terjadi gempa yang cukup hebat di sekitar kota tersebut. Orang-orang berhamburan ke jalanan menjauhi bangunan, namun tak sedikti pula muslimin yang sedang melaksanakan sholat Maghrib di masjid-masjid tetap berusaha khusyu’ di tengah getaran hebat tersebut. Gempa yang dilaporkan hinga 5.9 skala Richter dengan pusat gempa 26 meter di utara Donggala dan di kedalaman 10 meter itu, menyebabkan terbentuknya gelombang tsunami hingga tinggi 5 meter yang menghempas sebagian besar wilayah Palu dan Donggala.

Gempa hebat yang terjadi tak lebih dari 10 detik tersebut itu, turut menghancurkan banyak bangunan tinggi, ribuan rumah dan beberapa tempat ibadah. Ribuan korban meninggal dunia dan tak sedikit yang luka parah tertimpa reruntuhan.  Sedangkan untuk orang-orang yang terselamatkan, mereka ada yang kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga , juga mata pencaharian mereka.

 

Uluran Tangan untuk Sang Mutiara Khatulistiwa

Di tengah suasana kalut, membingungkan dan serba terbatas, didukung teknologi informasi yang serba cepat, menggerakkan banyak pihak membantu korban. Banyak lembaga, ormas, komunitas dan entitas lainnya segera mengerahkan potensi bantuan dari seluruh Indonesia untuk daerah berjuluk “mutiara khatulistiwa” ini, tak terkecuali Cinta Quran Foundation.

Pada pertengahan Oktober lalu, kru Cinta Quran Foundation turut berperan dalam pemulihan mental korban bencana di sekitar pantai barat pulau Sulawesi tersebut. Perjalanan kru dimulai pada hari Kamis pagi, bertepatan dengan 18 Oktober 2018. Namun sebelum pemberangkatan, sebagian dana bantuan ditransfer terlebih dahulu kepada mirtra kami di Kota Palu untuk membeli barang kebutuhan pokok di berbagai daerah yang tak jauh dari lokasi terdampak.

Kru Cinta Quran Foundation langsung bergerak cepat dan sampai di Palu pada siang hari pukul 9 WITA. Pertama, kru menyambangi pengungsi di Kabupaten Sigi yang terdampak. Di tenda-tenda pengungsian diselenggarakan program mental recovery untuk para korban gempa dan tsunami. Mereka tampak antusias dengan mental recovery oleh Ustadz Asep Supriatna sebagai master trainer yang bertugas. Selepas itu, para korban diberikan bantuan berupa kebutuhan pokok yang diperuntukkan kepada 250 kepala keluarga di Kabupaten Sigi.

Sore harinya, kru Cinta Quran Foundation sampai di Kabupaten Donggala. Di sana tak hanya sekedar gempa yang menyebabkan banyak bangunan runtuh, namun juga terjadi fenomena yang tak sering dilihat, yaitu Likuifaksi. Fenomena ini bahkan menurut masyarakat setempat menyebabkan 2 kelurahan di kabupaten tersebut hilang ditelan bumi. Di sana kru juga menyempatkan diri untuk memberikan mental recovery kepada korban yang ada dan menyalurkan bantuan. Terakhir, kru juga mengunjungi serta menyalurkan bantuan dari donatur di Kota Palu yang juga terdampak parah karena banyak bangunan penting turut hancur menjadi puing. Total bantuan yang disalurkan Cinta Quran Foundation dalam dua tahap. Tahap pertama, penyaluran oleh kru selama 18 – 19 oktober 2018 kemarin diperuntukkan kepada 500 kepala keluarga di pengungsian. Sisa dan tambahan donasi yang terus terkumpul akan disalurkan di tahap kedua pada tangal 10 – 13 November 2018 melalui lembaga dan mitra kami di Palu.

 

Di Balik Musibah

Selama perjalanan, kru kami yang hadir di lokasi bencana melaporkan melihat banyak pesan-pesan menakjubkan kuasa Allah SWT. Dilaporkan bahwa banyak pula bangunan rumah dan masjid yang masih berdiri kokoh meskipun jaraknya lebih dekat dengan bibir pantai dibandingkan dengan beberapa bangunan yang hancur. Justru bangunan seperti taman, jembatan, mall dan rumah sakit yang lebih jauh jaraknya dari pantai malah hancur. Seolah-olah meski bencana terjadi di kota atau kabupaten yang sama, namun tempat-tempat yang ‘terpilih’ saja yang hancur.

Ada juga di suatu area di Donggala, kru kami menuturkan sempat keluar air dari reruntuhan bangunan. Namun air tersebut berwarna merah gelap dan berbau anyir bagaikan darah keluar dari gencetan runtuhan bangunan-bangunan. Bahkan air itu hingga beberapa hari kru kami di sana terus mengalir sebagaimana kondisi tersebut.

Sebagai seorang muslim, kacamata iman memaksa kita untuk melihat berbagai kejadian di muka bumi ini sebagai pesan-pesan dari Allah SWT untuk seluruh hambaNya di muka bumi. Baik momen suka maupun momen duka seperti hal bencana ini, semestinya menjadi pengingat bagi kita akan kebesaran Allah SWT dan kerendahan kita sebagai makhluk. Namun terlepas apakah ini adzab atau ujian bagi kita atau para korban khususnya, meringankan kesulitan sesama manusia adalah concern kita untuk saat ini. Terimakasih untuk para donatur yang mempercayakan penyaluran bantuannya kepada Cinta Quran Foundation, sehingga kami bisa turut andil dalam membantu para korban. (/fdl)

Ikhtiar Sang Napi Mengenal Quran dari Balik Jeruji

Ikhtiar Sang Napi Mengenal Quran dari Balik Jeruji

IBBQ di Pantai Utara

Setelah hampir 3 bulan sebelumnya mengadakan pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran di Cirebon, Juli lalu Tim IBBQ kembali mengunjungi daerah di utara pulau Jawa itu.  Untuk ke-4 kalinya Cinta Quran Foundation mengadakan pelatihan bagi buta aksara Quran di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon, Jawa Barat. Program pelayanan masyarakat muslim ini, Alhamdulillah selalu berjalan lancar dan dengan respon positif dari pengelola Lapas.

Pada kunjungannya yang ke-4 di Lapas kelas I Cirebon ini, Tim IBBQ mulai berangkat bersama 4 orang kru sejak Jum’at sore tanggal 27 Juli 2018. Perjalan yang menempuh tak kurang dari 250 kilometer ini berjalan lancar dan kru sampai sekitar pukul 7 malam di Cirebon. Setelah mempersiapkan beberapa perangkat penunjang pelatihan, Tim segera mengistirahatkan diri dikarenakan training Indonesia Bisa Baca Quran akan diselenggarakan pada Sabtu paginya hingga sore hari.

Pada Sabtu 28 Juli keesokan harinya, Tim segera berangkat ke Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon dengan mobil. Berdasarkan jumlah peserta pelatihan yang mengikuti, kami membuka 2 kelas pelatihan di tempat yang letaknya tidak begitu berjauhan. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dalam 2 kelas pelatihan ini berjumlah 55 orang, dengan rincian 30 orang di kelas pelatihan pertama dan 25 orang di kelas pelatihan kedua. Pelatihan IBBQ Alhamdulillah dapat dimulai pukul 10 pagi hingga selesai sebelum azan Ashar sore harinya.

 

Semangat Qurani Sang Napi

Kisah hijrah tak melulu datang dari lingkungan kajian, masjid, sekolah, komunitas atau kampus dengan kebebasan mendapatkan hikmah darinya. Namun tak jarang kisah hijrah juga datang dari lingkungan yang penuh keterbatasan akses pengetahuan dan ilmu Islam, contohnya seperti lembaga pemasyarakatan. Sebagai konsekuensi karena perbuatan melanggar hukumnya, para narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan hanya mendapatkan fasilitas dan layanan standard seperti makan, minum, tidur, ibadah dan lainnya yang disediakan oleh negara.

Adalah Agus Nugroho, seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon, yang dengan kemuan yang kuat untuk memperbaiki bacaan Qurannya selama di balik jeruji besi. Tak hanya itu, pria asal Majalengka ini, dipercaya oleh petugas lapas untuk mengajak dan mengajar mengaji narapidana lainnya di Lapas kelas I Cirebon. Bahkan ia dengan inisiasi pribadinya pula belajar beberapa do’a harian dan mengajarkan hafalan-hafalan do’a tersebut kepada kawan-kawannya sesama narapidana.

Pak Agus sebelumnya sama sekali tidak dapat membaca aksara Quran. Namun setelah mendapatkan pelatihan dari Tim Indonesia Bisa Baca Quran yang diselenggarakan Cinta Quran Foundation pada Ramadhan 3 bulan lalu, ia mulai memahami dan mulai dapat membaca Quran. Meski belum terlalu lancar, semangat pria berumur 46 tahun ini tidak mudah patah arang. Agar terus menjaga semangatnya memperbaiki dirinya, Pak Agus juga mengajak kawan-kawan napi lainnya untuk belajar Quran selama di Lapas. Bahkan semangat Pak Agus tidak terhenti di situ saja, ia yang rencananya akan bebas pada akhir Agustus ini, bercita-cita mulia untuk mengadakan Pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran untuk masyarakat muslim di kampungnya, Majalengka.

 

Training Baca Quran Para Ibu di Indramayu

Tim Indonesia Bisa Baca Quran belum selesai tugasnya di Sabtu akhir pekan. Tak hanya Lapas kelas I Cirebon yang diselenggarakan Pelatihan Baca Quran, namun Ibu-ibu di suatu desa di Indramayu juga mendapatkan kesempatannya belajar memperbaiki bacaan Qurannya bersama Tim.

Penyelenggaraan Pelatihan IBBQ Indramayu kali ini diadakan di suatu gedung Taman Anak-anak di daerah Pabean Udik. Pada awalnya kami akan membuka 2 kelas pelatihan, namun karena jumlah peserta yang pada hari H penyelenggaraan terkonfirmasi tak lebih dari 40 orang, maka Tim hanya membuka 1 kelas pelatihan. Meski hanya dibuka 1 kelas pelatihan dan fasilitas tempat yang sederhana, tak menyurutkan kemauan para Ibu di kampong Pabean Udik ini untuk mengikutinya.

Peserta pelatihan sebenarnya dibuka untuk umum, pria dan wanita, namun karena kesibukan para Lelaki yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan menyebabkan pelatihan hanya dipenuhi oleh para Wanita saja. Para warga yang berprofesi sebagai nelayan ini bisa menempuh sekitar 1 – 2 bulan untuk sekali melaut sehingga bisa dikatakan tak banyak waktu untuk hadir bersama keluarga atau juga memperdalam ilmu agama.

Obrol-obrol dengan para penduduk kami mendapatakan kondisi masyarakat muslim yang masih banyak belum lancar membaca Quran, mulai dari anak SMA, para orangtua dan bahkan Mahasiswa dan pemudanya. Yang lancar membaca Quran justru kebanyakan adalah anak SD atau umur awal SMP. Hal ini dikarenakan anak-anak yang mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Quran) kebanyakan berumur 6-12 tahun. Minimnya pengajaran agama Islam di lingkungan ini juga menjadi salah satu perhatian kami untuk membuka kelas pelatihan IBBQ di desa nelayan ini. Besar harapan kami semoga dengan adanya pelatihan IBBQ, masyarakat Pabean udik dapat membuka mata bahwa kondisi pendidikan Islam di desa juga sedang merosot, sehingga memiliki kesadaran akan pentingnya menghidupkan kembali semangat membaca serta mengamalkan Quran dalam kehidupan sehari-harinya.

Menghadirkan Kembali Semangat Quran di Tenggara Maluku

Menghadirkan Kembali Semangat Quran di Tenggara Maluku

Perjalanan kami ke Kota Tual dimulai sejak Kamis pagi tanggal 19 Juli 2018. Dengan mengerahkan 4 orang kru. Tim IBBQ (Indonesia Bisa Baca Quran) mulai berangkat dari bandara Soekarno-Hatta menuju Makassar sebagai trasit sementara. Setelah itu penerbangan berlanjut ke Bandar Udara Pattimura Ambon dan terbang lagi dengan pesawat kecil ke Kota Tual.

Sesampainya Tim IBBQ di Kota Tual, kami yang bekerjasama dengan kawan-kawan FROMKEI (Forum Tokoh dan Ummat Islam Kei) disambut dengan baik menuju tempat istirahat. Kelelahan setelah penerbangan yang banyak transit membuat kami merasa harus bersegera memberikan hak tubuh ini, karena rencana kami esok hari dan seminggu ke depannya akan melaksanaan kelas IBBQ di beberapa tempat terpisah pulau di daerah Kota Tual, di Tamedan, Danar dan Pulau Dulah Laut.

 

Pariwisata dan Terlupakannya Etika

Pekerjaan kebanyakan penduduk di kepuluan tenggara kepulauan Maluku ini adalah nelayan. Sehingga untuk mengumpulkan peserta cukup memakan waktu karena jarak tempuh dan pekerjaan melaut tadi. Latar belakang nelayan sebagai pekerjaan yang tak seberapa cukup menghasilkan ini, sedikit menggoda untuk berhenti dibandingkan dengan banyaknya fasilitas pariwisata yang begitu menjamur di pulau-pulau sekitar Kota Tual dan menjadi bagian dari layanan pariwisata.

Dalam suatu kesempatan, Tim mengobrol dengan salah satu tokoh masyarakat di sana, mereka berpendapat bahwa kondisi yang tak seimbang ini cukup menakutkan masa depan generasi setelah mereka. Dengan perkembangan daerah (khususnya pariwisata) di sana yang seolah menghilangkan banyak kebiasaan dan etika yang telah dijaga cukup lama seperti kesopanan busana dan gaya hidup. Mereka khawatir terhadap kebiasaan turis, khususnya turis mancanegara yang mengabaikan etika berpakaian di sekitar pantai.

 

Listrik dan Air

Ada juga kejadian menarik di Dullah Laut. Ketika Tim IBBQ akan menggunakan perangkat elektronik seperti LCD Projector dan Laptop, ternyata listrik yang dibutuhkan tidak mencukupi. Akhirnya dengan dibantu oleh panitia lapang dan masyarakat sekitar Tim menggunakan Genset sebagai sumber listrik selama aktivitas pelatihan. Usut punya usut, ternyata penduduk Dullah Laut belum tercukupi pasokan listriknya, sehingga menggunakan panel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka. Itu pun hanya cukup untuk penerangan standard sehari-hari. Jadi barang elektronik yang membutuhkan daya cukup besar  tidak dapat dipakai setiap hari.

Kisah tak berhenti di situ. Walaupun menggunakan tenaga surya sebagai pemasok kebutuhan listrik, namun hal tersebut  cukup berguna jika diimplementasikan selama musim panas. Lain ceita jika di musim penghujan datang, penduduk Dullah Laut justru lebih sibuk untuk mengumpulkan air hujan sebagai pasokan air selama musim ke depan karena ketersediaan air bersih di pulau ini juga tak seberapa banyak. Jadi, kami Tim IBBQ sungguh miris sekaligus takjub melihat fenomena ini , di satu sisi melihat keterbatasan layanan pemerintah untuk memenuhi hak atas kekayaan energi masyarakatnya kurang begitu baik. Namun di sisi lain sungguh takjub melihat kuasa Allah SWT menghadirkan musim-musim yang berganti untuk disyukuri manfaat kehadirannya.

 

Komunitas Muslim yang Serba Tertinggal

Agaknya bukan hanya soal kesejahteraan saja yang kami soroti selama perjalanan panjang di tenggara Maluku ini. Ada semangat berislam yang hilang di sebagian besar muslimin Maluku, terutama pulau-pulau kecilnya. Meskipun mayoritas penduduk dikatakan beragama Islam, namun jika dibandingkan dengan daerah berpenduduk muslim di kepulauan lain di Timur Indonesia, seperti Maluku Utara ataupun Nusa Tenggara Barat,  tak cukup terasa ada suasana Islam di Tual dan pulau sekitarnya.

Contoh kecil saja, ada suatu perkampungan di Tual yang memiliki masjid yang tidak pernah mengadaka Ibadah Sholat Jum’at. Hal ini bukan lantaran penduduk lelaki muslimnya kurang dari 40 orang atau agama Islam minoritas, bahkan sebaliknya. Meski Islam agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk Tual, namun Islam tidak hadir di sendi-sendi kehidupan mereka, bahkan hal sederhana semacam meramaikan masjid saja jadi masalah cukup berat.

Di daerah Danar, ujung selatan Kota Tual kondisi Ummat Islam di sana juga cukup mengkhawatirkan. Sama halnya seperti perkampungan di Kota Tual tadi, dengan kondisi secara jumlah muslim lebih banyak, namun secara fasilitas pendidikan dan keagamaan kalah bersaing dengan masyarakat Katolik dan Protestan di sana. Tak sedikt orangtua muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah milik lembaga Katolik dan Protestan di sana. Para orangtua itu berfikir fasilitas pendidikan yang baik, akan menghasilkan masa depan yang baik untuk anak-anaknya. Tak salah memang, namun mestinya juga  jadi cermin pembelajaran tersendiri bagi lembaga pendidikan dan keagamaan Islam untuk terus memberikan layanan yang lebih baik bagi ummatnya. Tantangan dakwah hadir untuk meminta jawaban dan perbaikan, bukan untuk membuat semakin rendah diri.

Alhamdulillah aktivitas Tim IBBQ (Indonesia Bisa Baca Quran)  selama hampir 10 hari di Kota Tual dan kepulauan sekitarnya, telah berhasil menyelenggarakan 15 kelas pembebasan buta aksara Quran. Setiap kelas berisikan tidak kurang dari 25 orang. Sehingga kurang lebih penerima manfaat dalam aktifitas kami di Tual dapat mencapai 400 orang. Tentunya itu masih sebagian kecil muslimin di Tual.

Akhirnya, aktivitas program IBBQ di Tual selesai pada 28 Juli 2018 dengan penuh perjuangan dan pergulatan kerinduan. Terimakasih tentunya kami ucapkan kepada para donatur dan Sahabat Cinta Quran lainnya yang telah peduli menyisihkan sedikit rizkinya untuk menyukseskan program pengentasan buta aksara Quran di seluruh Indonesia ini. Semoga pahala dan keberlimpahan rezeki diberikan oleh Allah SWT , Dzat Yang Maha Memberi Rizqi. (/fdl)

IBBQ Kembali Menyapa Maluku Tenggara

IBBQ Kembali Menyapa Maluku Tenggara

Setelah November tahun lalu untuk pertama kalinya Cinta Quran Foundation menyelenggarkan program IBBQ untuk pengentasan buta aksara AlQuran di Maluku Tenggara, tahun ini tepatnya bulan Juli 2018, program Indonesia Bisa Baca Quran (IBBQ) kembali menyapa pelosok nusantara ini.

Persiapan Tim IBBQ dimulai sejak beberapa pekan lalu dengan mengerahkan 4 orang crew yang akan melaksanakan training Indonesia Bisa Baca Quran di ujung tenggara kepulauan Maluku tersebut. Cinta Quran Foundation meyakini bahwa Umat Muslim di manapun berhak untuk mendapatkan pencerahan dengan AlQuran, karna AlQuran merupakan pedoman hidup bagi seluruh ummat muslim. Umat Muslim memang minoritas di Pulau Dullah Laut, Maluku Tenggara, namun semangat mereka untuk belajar Al-Quran sangatlah menakjubkan.

Pemberangkatan dilakukan sejak 4 hari lalu dan hingga hari ini, sudah 3 hari Tim IBBQ berada di pulau Dullah, kepulauan Maluku Tenggara. Dengan tekad untuk membantu saudara muslim di daerah terpencil sekaligus sangat minimnya pengetahuan mereka terhadap AlQuran.

Ditengah mirisnya pengetahuan mereka terhadap AlQuran maupun ilmu sosial lainnya ternyata masih ada daerah di negeri kaya raya Indonesia yang belum mendapatkan arus Listrik, seperti di Pulau Dullah Maluku Tenggara nyatanya. Alhamdulillah semangat dari para warga setempat terus berkobar untuk belajar bisa membaca AlQuran. Team menggunakan Genset Listrik untuk tetap bersemangat juga mengajarkan Alquran, untuk mereka yang semata-mata ingin mengenal Alquran, bisa membacanya, tahu isi dan maknanya serta bisa mengamalkan-Nya.. Aamiin

Jazakumullah khyran do’a sahabat dan dukungan untuk program #IndonesiaBisaBacaQuran . Semoga setiap huruf yang mereka baca Mengalirkan pahala Abadi selamanya!