Belajar Baca Quran di Lapas Gunung Sindur

Belajar Baca Quran di Lapas Gunung Sindur

Alhamdulillah, Program Indonesia Bisa Baca Quran begitu luas diterima dan semakin dibutuhkan oleh masyarakat di segala penjuru negeri. Tak terkecuali para narapidana yang pernah melakukan perbuatan kriminal di hari-hari terdahulunya, ingin juga kembali mengenal Quran.  Bahkan program IBBQ yang berjalan di lembaga-lembaga pemasyarakatan merupakan permintaan langsung dari Kepala Lapas terkait.

Tim IBBQ Cinta Quran Foundation pada tanggal 19 November 2018, kembali dipercaya menyelenggarakan training membaca Quran di Lembaga Pemasyarakatan. Tepatnya di Lapas Gunung Sindur, Kabupaten Bogor , Jawa Barat. Meski ini bukan pertama kalinya, IBBQ yang dilaksanakan di Lapas Gunung Sindur ini dihadiri oleh mayoritas peserta yang baru pertama kali mengikuti training membaca Quran.

Agenda training IBBQ dimulai pada pukul 9 pagi. Pada kegiatan kali ini, sebanyak 60 peserta dibagi ke dalam 2 kelas berbeda. Satu kelas dihadiri 25 orang peserta, sedangkan kelas yang lainnya dihadiri sebanyak 35 orang peserta karena luas ruangan yang tidak sama. Alhamdulillah, persiapan kegiatan yang telah dilakukan sejak jam setengah 8 pagi ini, dibuka dengan lancar di kedua kelas tersebut.

Tiba kemudian waktu makan siang sekaligus sholat dzuhur berjama’ah. Para peserta dan juga trainer dan segenap kru IBBQ melaksanakan sholat berjama’ah di Masjid Lapas. Saat waktu makan siang, para peserta mengobrol bersama kru IBBQ sembari menikmati santapan yang disediakan. Para peserta yang juga kesemuannya adalah narapidana itu menceritakan betapa senangnya mereka kembali dapat bisa belajar Quran. Walau pun di dalam Lapas disediakan Quran dan bacaan lainnya, mereka jarang yang mau membaca. Dengan izin Allah SWT, kedatangan Tim IBBQ dari Cinta Quran Foundation ini kembali membuat para napi ini bersemangat kembali untuk membaca Quran serta memperbaiki bacaanya Quran mereka.

Setelah sholat dan makan siang, akhirnya Training baca Quran IBBQ kembali dilanjutkan. Para peserta secara interaktif diminta mengulangi yang mereka pelajari di sesi awal tadi. Pelatihan berlanjut hingga pukul 3 sore dan ditutup dengan sesi Wifle, yakni mengungkapkan kesan mereka terhadap pelatihan serta resolusi mereka ke depannya untuk kembali bersemangat belajar membaca Quran. (/fdl)

Lombok, Kami Kembali

Lombok, Kami Kembali

Recovery Mental dan Pelatihan Baca Quran

Salah satu peran yang seringkali diisi oleh Cinta Quran Foundation di daerah terdampak bencana adalah menghadirkan keceriaan sembari mengembalikan semangat hidup pada korban. Untuk mewujudkan hal tersebut, Cinta Quran Foundation menyelenggarakan program mental recovery di tenda-tenda pengungsian atau tempat lainnya di mana korban terkonsentrasi. Barulah selepas mental recovery tersebut, kami menyalurkan bantuan yang dipercayakan oleh para donatur Sahabat Cinta Quran kepada kepala keluarga atau perwakilan masing-masingnya.

Tak hanya itu, jika momen waktu, persiapan dan tempatnya tepat, kami juga menyelenggarakan program Indonesia Bisa Baca Quran (IBBQ) secara cuma-cuma untuk para korban. Dan setelah pertama kalinya kunjungan pasca  bencana gempa agustus 2018 lalu ke Lombok, untuk kunjungan kedua kalinya, Cinta Quran Foundation memberangkatkan Tim Program IBBQ untuk mengadakan mental recovery dan membuka kelas training IBBQ.

Pada Selasa tanggal 30 Oktober 2018, Tim IBBQ membuka 2 kelas training baca Quran yang dihadiri 50 orang lebih di daerah Teniga. Setelah itu bersama pengungsi lainnya sebanyak 60-70 orang berkumpul di dekat masjid yang terdampak gempa. Di sana diadakan program mental recovery class untuk menyemangati kembali para korban agar kuat menyikapi bencana ini. Akhirnya, Tim selesai mengadakan seluruh kegiatan pukul 4 sore,

Esok harinya, Rabu 31 Oktober 2018, Tim IBBQ pergi ke Lombok Timur dan kembali membuka 2 kelas training Indonesia Bisa Baca Quran. Kelas ini juga dihadiri 50 orang lebih sebagai peserta. Satu kelas dibimbing oleh Ustadz Asep Supriatna dan satu kelas lainnya dibimbing oleh Ustadz Abdullah Ramli. Setelah kelas, diadakan juga penyaluran bantuan dalam bentuk sembako dari Cinta Quran Foundation kepada para warga.

 

Dukungan Pemerintah Sumbawa

Pada Kamis, 1 November keesokan harinya, dengan menaiki kapal Feri selama hampir 2 jam lamanya, Tim IBBQ akhirnya sampai ke pulau Sumbawa. Di sana Tim IBBQ bertemu dengan tokoh pemerintahan setempat; Sekretaris daerah Kabupaten Sumbawa beserta jajarannya. Beserta beberapa tokoh agama Islam dan Perwakilan Kementerian Agama di daerah, Tim Cinta Quran Foundation mengutarakan tujuan kedatangan serta memperkenalkan program Indonesia Bisa Baca Quran. Alhamdulillah.. ternyata pemerintah kabupaten Sumbawa juga memiliki program yang sama, yakni pengentasan buta baca Al-Quran. Sehingga dengan kehadirannya, Tim IBBQ  mendapat tanggapan postitif dari pemerintah setempat.

Walau pun tidak mengadakan kelas IBBQ di Sumbawa, dengan dukungan dari pemerintah dan bantuan dari mitra kami, Baituttamkiin, pada 2 November Tim IBBQ menuju Taliwang di Sumbawa Barat untuk mengadakan kelas mental recovery. Peserta yang hadir cukup banyak, yakni sekitar 70an orang lebih dan diisi oleh Ustadz Asep Supriatna.

 

Hujan, Rezeki Langit

Selama Tim IBBQ di Lombok dan Sumbawa, memang cuaca sungguh terik. Bahkan malam hari juga terasa hawa tak begitu nyaman. Menurut pengakuan masyarakat setempat, daerah mereka selama 6 bulan terakhir sama sekali belum turun hujan. Kondisi tanah di jalanan pun memang nempak begitu kering. Namun pada hari terakhir Tim IBBQ di sana, sebelum berangkat pulang 3 November esok harinya hujan lebat terjadi di Lombok. Alhamdulillah wa syurkurillah.. kita medo’akan bersama semoga hujan ini menjadi pertanda rezeki dan kebaikan bagi kehidupan Qurani di Lombok, Sumbawa dan sekitarnya.

Menguatkan Semangat Palu Bangkit Kembali

Menguatkan Semangat Palu Bangkit Kembali

Teguran Selepas Adzan

Tepat setelah adzan maghrib berkumandang di kota Palu, pukul 18.02 WITA terjadi gempa yang cukup hebat di sekitar kota tersebut. Orang-orang berhamburan ke jalanan menjauhi bangunan, namun tak sedikti pula muslimin yang sedang melaksanakan sholat Maghrib di masjid-masjid tetap berusaha khusyu’ di tengah getaran hebat tersebut. Gempa yang dilaporkan hinga 5.9 skala Richter dengan pusat gempa 26 meter di utara Donggala dan di kedalaman 10 meter itu, menyebabkan terbentuknya gelombang tsunami hingga tinggi 5 meter yang menghempas sebagian besar wilayah Palu dan Donggala.

Gempa hebat yang terjadi tak lebih dari 10 detik tersebut itu, turut menghancurkan banyak bangunan tinggi, ribuan rumah dan beberapa tempat ibadah. Ribuan korban meninggal dunia dan tak sedikit yang luka parah tertimpa reruntuhan.  Sedangkan untuk orang-orang yang terselamatkan, mereka ada yang kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga , juga mata pencaharian mereka.

 

Uluran Tangan untuk Sang Mutiara Khatulistiwa

Di tengah suasana kalut, membingungkan dan serba terbatas, didukung teknologi informasi yang serba cepat, menggerakkan banyak pihak membantu korban. Banyak lembaga, ormas, komunitas dan entitas lainnya segera mengerahkan potensi bantuan dari seluruh Indonesia untuk daerah berjuluk “mutiara khatulistiwa” ini, tak terkecuali Cinta Quran Foundation.

Pada pertengahan Oktober lalu, kru Cinta Quran Foundation turut berperan dalam pemulihan mental korban bencana di sekitar pantai barat pulau Sulawesi tersebut. Perjalanan kru dimulai pada hari Kamis pagi, bertepatan dengan 18 Oktober 2018. Namun sebelum pemberangkatan, sebagian dana bantuan ditransfer terlebih dahulu kepada mirtra kami di Kota Palu untuk membeli barang kebutuhan pokok di berbagai daerah yang tak jauh dari lokasi terdampak.

Kru Cinta Quran Foundation langsung bergerak cepat dan sampai di Palu pada siang hari pukul 9 WITA. Pertama, kru menyambangi pengungsi di Kabupaten Sigi yang terdampak. Di tenda-tenda pengungsian diselenggarakan program mental recovery untuk para korban gempa dan tsunami. Mereka tampak antusias dengan mental recovery oleh Ustadz Asep Supriatna sebagai master trainer yang bertugas. Selepas itu, para korban diberikan bantuan berupa kebutuhan pokok yang diperuntukkan kepada 250 kepala keluarga di Kabupaten Sigi.

Sore harinya, kru Cinta Quran Foundation sampai di Kabupaten Donggala. Di sana tak hanya sekedar gempa yang menyebabkan banyak bangunan runtuh, namun juga terjadi fenomena yang tak sering dilihat, yaitu Likuifaksi. Fenomena ini bahkan menurut masyarakat setempat menyebabkan 2 kelurahan di kabupaten tersebut hilang ditelan bumi. Di sana kru juga menyempatkan diri untuk memberikan mental recovery kepada korban yang ada dan menyalurkan bantuan. Terakhir, kru juga mengunjungi serta menyalurkan bantuan dari donatur di Kota Palu yang juga terdampak parah karena banyak bangunan penting turut hancur menjadi puing. Total bantuan yang disalurkan Cinta Quran Foundation dalam dua tahap. Tahap pertama, penyaluran oleh kru selama 18 – 19 oktober 2018 kemarin diperuntukkan kepada 500 kepala keluarga di pengungsian. Sisa dan tambahan donasi yang terus terkumpul akan disalurkan di tahap kedua pada tangal 10 – 13 November 2018 melalui lembaga dan mitra kami di Palu.

 

Di Balik Musibah

Selama perjalanan, kru kami yang hadir di lokasi bencana melaporkan melihat banyak pesan-pesan menakjubkan kuasa Allah SWT. Dilaporkan bahwa banyak pula bangunan rumah dan masjid yang masih berdiri kokoh meskipun jaraknya lebih dekat dengan bibir pantai dibandingkan dengan beberapa bangunan yang hancur. Justru bangunan seperti taman, jembatan, mall dan rumah sakit yang lebih jauh jaraknya dari pantai malah hancur. Seolah-olah meski bencana terjadi di kota atau kabupaten yang sama, namun tempat-tempat yang ‘terpilih’ saja yang hancur.

Ada juga di suatu area di Donggala, kru kami menuturkan sempat keluar air dari reruntuhan bangunan. Namun air tersebut berwarna merah gelap dan berbau anyir bagaikan darah keluar dari gencetan runtuhan bangunan-bangunan. Bahkan air itu hingga beberapa hari kru kami di sana terus mengalir sebagaimana kondisi tersebut.

Sebagai seorang muslim, kacamata iman memaksa kita untuk melihat berbagai kejadian di muka bumi ini sebagai pesan-pesan dari Allah SWT untuk seluruh hambaNya di muka bumi. Baik momen suka maupun momen duka seperti hal bencana ini, semestinya menjadi pengingat bagi kita akan kebesaran Allah SWT dan kerendahan kita sebagai makhluk. Namun terlepas apakah ini adzab atau ujian bagi kita atau para korban khususnya, meringankan kesulitan sesama manusia adalah concern kita untuk saat ini. Terimakasih untuk para donatur yang mempercayakan penyaluran bantuannya kepada Cinta Quran Foundation, sehingga kami bisa turut andil dalam membantu para korban. (/fdl)

Ikhtiar Sang Napi Mengenal Quran dari Balik Jeruji

Ikhtiar Sang Napi Mengenal Quran dari Balik Jeruji

IBBQ di Pantai Utara

Setelah hampir 3 bulan sebelumnya mengadakan pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran di Cirebon, Juli lalu Tim IBBQ kembali mengunjungi daerah di utara pulau Jawa itu.  Untuk ke-4 kalinya Cinta Quran Foundation mengadakan pelatihan bagi buta aksara Quran di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon, Jawa Barat. Program pelayanan masyarakat muslim ini, Alhamdulillah selalu berjalan lancar dan dengan respon positif dari pengelola Lapas.

Pada kunjungannya yang ke-4 di Lapas kelas I Cirebon ini, Tim IBBQ mulai berangkat bersama 4 orang kru sejak Jum’at sore tanggal 27 Juli 2018. Perjalan yang menempuh tak kurang dari 250 kilometer ini berjalan lancar dan kru sampai sekitar pukul 7 malam di Cirebon. Setelah mempersiapkan beberapa perangkat penunjang pelatihan, Tim segera mengistirahatkan diri dikarenakan training Indonesia Bisa Baca Quran akan diselenggarakan pada Sabtu paginya hingga sore hari.

Pada Sabtu 28 Juli keesokan harinya, Tim segera berangkat ke Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon dengan mobil. Berdasarkan jumlah peserta pelatihan yang mengikuti, kami membuka 2 kelas pelatihan di tempat yang letaknya tidak begitu berjauhan. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dalam 2 kelas pelatihan ini berjumlah 55 orang, dengan rincian 30 orang di kelas pelatihan pertama dan 25 orang di kelas pelatihan kedua. Pelatihan IBBQ Alhamdulillah dapat dimulai pukul 10 pagi hingga selesai sebelum azan Ashar sore harinya.

 

Semangat Qurani Sang Napi

Kisah hijrah tak melulu datang dari lingkungan kajian, masjid, sekolah, komunitas atau kampus dengan kebebasan mendapatkan hikmah darinya. Namun tak jarang kisah hijrah juga datang dari lingkungan yang penuh keterbatasan akses pengetahuan dan ilmu Islam, contohnya seperti lembaga pemasyarakatan. Sebagai konsekuensi karena perbuatan melanggar hukumnya, para narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan hanya mendapatkan fasilitas dan layanan standard seperti makan, minum, tidur, ibadah dan lainnya yang disediakan oleh negara.

Adalah Agus Nugroho, seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Cirebon, yang dengan kemuan yang kuat untuk memperbaiki bacaan Qurannya selama di balik jeruji besi. Tak hanya itu, pria asal Majalengka ini, dipercaya oleh petugas lapas untuk mengajak dan mengajar mengaji narapidana lainnya di Lapas kelas I Cirebon. Bahkan ia dengan inisiasi pribadinya pula belajar beberapa do’a harian dan mengajarkan hafalan-hafalan do’a tersebut kepada kawan-kawannya sesama narapidana.

Pak Agus sebelumnya sama sekali tidak dapat membaca aksara Quran. Namun setelah mendapatkan pelatihan dari Tim Indonesia Bisa Baca Quran yang diselenggarakan Cinta Quran Foundation pada Ramadhan 3 bulan lalu, ia mulai memahami dan mulai dapat membaca Quran. Meski belum terlalu lancar, semangat pria berumur 46 tahun ini tidak mudah patah arang. Agar terus menjaga semangatnya memperbaiki dirinya, Pak Agus juga mengajak kawan-kawan napi lainnya untuk belajar Quran selama di Lapas. Bahkan semangat Pak Agus tidak terhenti di situ saja, ia yang rencananya akan bebas pada akhir Agustus ini, bercita-cita mulia untuk mengadakan Pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran untuk masyarakat muslim di kampungnya, Majalengka.

 

Training Baca Quran Para Ibu di Indramayu

Tim Indonesia Bisa Baca Quran belum selesai tugasnya di Sabtu akhir pekan. Tak hanya Lapas kelas I Cirebon yang diselenggarakan Pelatihan Baca Quran, namun Ibu-ibu di suatu desa di Indramayu juga mendapatkan kesempatannya belajar memperbaiki bacaan Qurannya bersama Tim.

Penyelenggaraan Pelatihan IBBQ Indramayu kali ini diadakan di suatu gedung Taman Anak-anak di daerah Pabean Udik. Pada awalnya kami akan membuka 2 kelas pelatihan, namun karena jumlah peserta yang pada hari H penyelenggaraan terkonfirmasi tak lebih dari 40 orang, maka Tim hanya membuka 1 kelas pelatihan. Meski hanya dibuka 1 kelas pelatihan dan fasilitas tempat yang sederhana, tak menyurutkan kemauan para Ibu di kampong Pabean Udik ini untuk mengikutinya.

Peserta pelatihan sebenarnya dibuka untuk umum, pria dan wanita, namun karena kesibukan para Lelaki yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan menyebabkan pelatihan hanya dipenuhi oleh para Wanita saja. Para warga yang berprofesi sebagai nelayan ini bisa menempuh sekitar 1 – 2 bulan untuk sekali melaut sehingga bisa dikatakan tak banyak waktu untuk hadir bersama keluarga atau juga memperdalam ilmu agama.

Obrol-obrol dengan para penduduk kami mendapatakan kondisi masyarakat muslim yang masih banyak belum lancar membaca Quran, mulai dari anak SMA, para orangtua dan bahkan Mahasiswa dan pemudanya. Yang lancar membaca Quran justru kebanyakan adalah anak SD atau umur awal SMP. Hal ini dikarenakan anak-anak yang mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Quran) kebanyakan berumur 6-12 tahun. Minimnya pengajaran agama Islam di lingkungan ini juga menjadi salah satu perhatian kami untuk membuka kelas pelatihan IBBQ di desa nelayan ini. Besar harapan kami semoga dengan adanya pelatihan IBBQ, masyarakat Pabean udik dapat membuka mata bahwa kondisi pendidikan Islam di desa juga sedang merosot, sehingga memiliki kesadaran akan pentingnya menghidupkan kembali semangat membaca serta mengamalkan Quran dalam kehidupan sehari-harinya.

Lapas Banjar Bebaskan Puluhan Warga Binaan dari Buta Baca Huruf AlQuran

Lapas Banjar Bebaskan Puluhan Warga Binaan dari Buta Baca Huruf AlQuran

Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjar menyelenggarakan Pembinaan Kepribadian khususnya bidang Kerohanian yakni dengan program belajar membaca Al-Qur’an. Bekerjasama dengan Cinta Qur’an Foundation, Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjar pun membebaskan warga binaannya dari buta huruf Al-Quran. Melalui program IBBQ yakni Indonesia Bisa Baca Qur’an yang digelorakan oleh Cinta Qur’an Foundation ini, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjar sangat terbantu dari yang sebelumnya tidak mengenal Huruf Hijaiyah menjadi bisa membaca Qur’an ataupun yang awalnya belum lancar kemudian menjadi lebih lancar dalam membaca Qur’an.

Program IBBQ ini ditunjang oleh Metode Tahrir yang memudahkan warga binaan dalam belajar baca Qur’an dengan Super Cepat dan Super Hebat. Didukung pula oleh penyampaian materi yang proaktif kepada warga binaan dan diselingi dengan nyanyian, gerakan badan serta canda tawa sehingga tak diragukan lagi bahwasanya proses ini menarik perhatian dan mempermudah warga binaan dalam mempelajari setiap penjelasan M. Zainudin dari tim Cinta Qur’an Foundation.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjar Agus Wahono,A.Md.IP., S.H., M.H. menyambut baik program IBBQ. Beliau berharap program tersebut dapat berkelanjutan selaras dengan tujuan bahwasanya apabila lebih sering diselenggarakan maka lebih sedikit pula warga binaan yang buta baca Qur’an nantinya. Sehingga kebiasaan membaca Qur’an dapat menjadi pengisi waktu warga binaan agar dapat lebih mendekatkan diri pada Alloh SWT. Beliau pun menyampaikan bahwa memang pada dasarnya semakin banyak kegiatan yang dilaksanakan di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjar maka semakin baik pula pembinaan bagi para warga binaan dan tentunya dapat berpengaruh juga pada keamanan dan ketertiban yang kondusif.

Ketika ditanyakan perihal antusiasme serta daya tangkap warga binaan dalam mengikuti materi yang disampaikan, Ustadz Abu Syakir selaku trainer dari Cinta Qur’an Foundation menjelaskan bahwa warga binaan Lapas Banjar dinilai sangat antusias, bersemangat dan dapat dikategorikan cerdas serta cepat menyerap materi dengan baik. Adapun tanggapan warga binaan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut dikomentari dengan positif dan berterima kasih karena sangat memberi jalan untuk memiliki kemampuan baca Qur’an, sehingga dapat memanfaatkan waktu dalam menjalani masa pidana dengan senantiasa membaca Kalam Alloh tersebut sebagai langkah introspeksi menjadi insan yang lebih baik lagi. ( LuLu NY : Tim Humas Lapas Banjar )

sumber : Web Humas Lapas Banjar

Menghadirkan Kembali Semangat Quran di Tenggara Maluku

Menghadirkan Kembali Semangat Quran di Tenggara Maluku

Perjalanan kami ke Kota Tual dimulai sejak Kamis pagi tanggal 19 Juli 2018. Dengan mengerahkan 4 orang kru. Tim IBBQ (Indonesia Bisa Baca Quran) mulai berangkat dari bandara Soekarno-Hatta menuju Makassar sebagai trasit sementara. Setelah itu penerbangan berlanjut ke Bandar Udara Pattimura Ambon dan terbang lagi dengan pesawat kecil ke Kota Tual.

Sesampainya Tim IBBQ di Kota Tual, kami yang bekerjasama dengan kawan-kawan FROMKEI (Forum Tokoh dan Ummat Islam Kei) disambut dengan baik menuju tempat istirahat. Kelelahan setelah penerbangan yang banyak transit membuat kami merasa harus bersegera memberikan hak tubuh ini, karena rencana kami esok hari dan seminggu ke depannya akan melaksanaan kelas IBBQ di beberapa tempat terpisah pulau di daerah Kota Tual, di Tamedan, Danar dan Pulau Dulah Laut.

 

Pariwisata dan Terlupakannya Etika

Pekerjaan kebanyakan penduduk di kepuluan tenggara kepulauan Maluku ini adalah nelayan. Sehingga untuk mengumpulkan peserta cukup memakan waktu karena jarak tempuh dan pekerjaan melaut tadi. Latar belakang nelayan sebagai pekerjaan yang tak seberapa cukup menghasilkan ini, sedikit menggoda untuk berhenti dibandingkan dengan banyaknya fasilitas pariwisata yang begitu menjamur di pulau-pulau sekitar Kota Tual dan menjadi bagian dari layanan pariwisata.

Dalam suatu kesempatan, Tim mengobrol dengan salah satu tokoh masyarakat di sana, mereka berpendapat bahwa kondisi yang tak seimbang ini cukup menakutkan masa depan generasi setelah mereka. Dengan perkembangan daerah (khususnya pariwisata) di sana yang seolah menghilangkan banyak kebiasaan dan etika yang telah dijaga cukup lama seperti kesopanan busana dan gaya hidup. Mereka khawatir terhadap kebiasaan turis, khususnya turis mancanegara yang mengabaikan etika berpakaian di sekitar pantai.

 

Listrik dan Air

Ada juga kejadian menarik di Dullah Laut. Ketika Tim IBBQ akan menggunakan perangkat elektronik seperti LCD Projector dan Laptop, ternyata listrik yang dibutuhkan tidak mencukupi. Akhirnya dengan dibantu oleh panitia lapang dan masyarakat sekitar Tim menggunakan Genset sebagai sumber listrik selama aktivitas pelatihan. Usut punya usut, ternyata penduduk Dullah Laut belum tercukupi pasokan listriknya, sehingga menggunakan panel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka. Itu pun hanya cukup untuk penerangan standard sehari-hari. Jadi barang elektronik yang membutuhkan daya cukup besar  tidak dapat dipakai setiap hari.

Kisah tak berhenti di situ. Walaupun menggunakan tenaga surya sebagai pemasok kebutuhan listrik, namun hal tersebut  cukup berguna jika diimplementasikan selama musim panas. Lain ceita jika di musim penghujan datang, penduduk Dullah Laut justru lebih sibuk untuk mengumpulkan air hujan sebagai pasokan air selama musim ke depan karena ketersediaan air bersih di pulau ini juga tak seberapa banyak. Jadi, kami Tim IBBQ sungguh miris sekaligus takjub melihat fenomena ini , di satu sisi melihat keterbatasan layanan pemerintah untuk memenuhi hak atas kekayaan energi masyarakatnya kurang begitu baik. Namun di sisi lain sungguh takjub melihat kuasa Allah SWT menghadirkan musim-musim yang berganti untuk disyukuri manfaat kehadirannya.

 

Komunitas Muslim yang Serba Tertinggal

Agaknya bukan hanya soal kesejahteraan saja yang kami soroti selama perjalanan panjang di tenggara Maluku ini. Ada semangat berislam yang hilang di sebagian besar muslimin Maluku, terutama pulau-pulau kecilnya. Meskipun mayoritas penduduk dikatakan beragama Islam, namun jika dibandingkan dengan daerah berpenduduk muslim di kepulauan lain di Timur Indonesia, seperti Maluku Utara ataupun Nusa Tenggara Barat,  tak cukup terasa ada suasana Islam di Tual dan pulau sekitarnya.

Contoh kecil saja, ada suatu perkampungan di Tual yang memiliki masjid yang tidak pernah mengadaka Ibadah Sholat Jum’at. Hal ini bukan lantaran penduduk lelaki muslimnya kurang dari 40 orang atau agama Islam minoritas, bahkan sebaliknya. Meski Islam agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk Tual, namun Islam tidak hadir di sendi-sendi kehidupan mereka, bahkan hal sederhana semacam meramaikan masjid saja jadi masalah cukup berat.

Di daerah Danar, ujung selatan Kota Tual kondisi Ummat Islam di sana juga cukup mengkhawatirkan. Sama halnya seperti perkampungan di Kota Tual tadi, dengan kondisi secara jumlah muslim lebih banyak, namun secara fasilitas pendidikan dan keagamaan kalah bersaing dengan masyarakat Katolik dan Protestan di sana. Tak sedikt orangtua muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah milik lembaga Katolik dan Protestan di sana. Para orangtua itu berfikir fasilitas pendidikan yang baik, akan menghasilkan masa depan yang baik untuk anak-anaknya. Tak salah memang, namun mestinya juga  jadi cermin pembelajaran tersendiri bagi lembaga pendidikan dan keagamaan Islam untuk terus memberikan layanan yang lebih baik bagi ummatnya. Tantangan dakwah hadir untuk meminta jawaban dan perbaikan, bukan untuk membuat semakin rendah diri.

Alhamdulillah aktivitas Tim IBBQ (Indonesia Bisa Baca Quran)  selama hampir 10 hari di Kota Tual dan kepulauan sekitarnya, telah berhasil menyelenggarakan 15 kelas pembebasan buta aksara Quran. Setiap kelas berisikan tidak kurang dari 25 orang. Sehingga kurang lebih penerima manfaat dalam aktifitas kami di Tual dapat mencapai 400 orang. Tentunya itu masih sebagian kecil muslimin di Tual.

Akhirnya, aktivitas program IBBQ di Tual selesai pada 28 Juli 2018 dengan penuh perjuangan dan pergulatan kerinduan. Terimakasih tentunya kami ucapkan kepada para donatur dan Sahabat Cinta Quran lainnya yang telah peduli menyisihkan sedikit rizkinya untuk menyukseskan program pengentasan buta aksara Quran di seluruh Indonesia ini. Semoga pahala dan keberlimpahan rezeki diberikan oleh Allah SWT , Dzat Yang Maha Memberi Rizqi. (/fdl)

IBBQ Kembali Menyapa Maluku Tenggara

IBBQ Kembali Menyapa Maluku Tenggara

Setelah November tahun lalu untuk pertama kalinya Cinta Quran Foundation menyelenggarkan program IBBQ untuk pengentasan buta aksara AlQuran di Maluku Tenggara, tahun ini tepatnya bulan Juli 2018, program Indonesia Bisa Baca Quran (IBBQ) kembali menyapa pelosok nusantara ini.

Persiapan Tim IBBQ dimulai sejak beberapa pekan lalu dengan mengerahkan 4 orang crew yang akan melaksanakan training Indonesia Bisa Baca Quran di ujung tenggara kepulauan Maluku tersebut. Cinta Quran Foundation meyakini bahwa Umat Muslim di manapun berhak untuk mendapatkan pencerahan dengan AlQuran, karna AlQuran merupakan pedoman hidup bagi seluruh ummat muslim. Umat Muslim memang minoritas di Pulau Dullah Laut, Maluku Tenggara, namun semangat mereka untuk belajar Al-Quran sangatlah menakjubkan.

Pemberangkatan dilakukan sejak 4 hari lalu dan hingga hari ini, sudah 3 hari Tim IBBQ berada di pulau Dullah, kepulauan Maluku Tenggara. Dengan tekad untuk membantu saudara muslim di daerah terpencil sekaligus sangat minimnya pengetahuan mereka terhadap AlQuran.

Ditengah mirisnya pengetahuan mereka terhadap AlQuran maupun ilmu sosial lainnya ternyata masih ada daerah di negeri kaya raya Indonesia yang belum mendapatkan arus Listrik, seperti di Pulau Dullah Maluku Tenggara nyatanya. Alhamdulillah semangat dari para warga setempat terus berkobar untuk belajar bisa membaca AlQuran. Team menggunakan Genset Listrik untuk tetap bersemangat juga mengajarkan Alquran, untuk mereka yang semata-mata ingin mengenal Alquran, bisa membacanya, tahu isi dan maknanya serta bisa mengamalkan-Nya.. Aamiin

Jazakumullah khyran do’a sahabat dan dukungan untuk program #IndonesiaBisaBacaQuran . Semoga setiap huruf yang mereka baca Mengalirkan pahala Abadi selamanya!

Jannah Travel Dorong Indonesia Bebas Buta Aksara Quran

Jannah Travel Dorong Indonesia Bebas Buta Aksara Quran

AlQuran merupakan kitab suci sekaligus pedoman hidup bagi umat Islam. Sayangnya, masih banyak umat Islam yang tidak bisa membaca Alquran.

Berangkat dari hal itu, Jannah Travel memberikan dukungan terhadap gerakan pemberantasan buta aksara Alquran yang dijalankan Cinta Quran (CQ) Foundation. Ini agar masyarakat tidak berstatus Islam KTP, tidak memahami ajaran Alquran.

” Jannah travel tak mau Indonesia itu warganya hanya Islam KTP, tapi harusnya Islam yang bisa baca Alquran” ujar founder Jannah Travel, Irwansyah dalam Pengumuman Pemenang Umroh Gratis bareng Jannah Travel di Jakarta, Selasa 3 Juli 2018.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2004-2009, terdapat temuan lebih dari 53 persen umat Islam Indonesia tidak bisa membaca Alquran.

Irwansyah mengaku bersyukur bisa terlibat dalam gerakan ini. Dia berharap lebih banyak agen travel yang turut memberikan dukungan.

Perwakilan CQ Foundation, Ustaz Fatih Karim, mengatakan pihaknya memberikan apresiasi terhadap Jannah Travel. Sebab, dari sekian banyak travel, baru Jannah Travel yang menyatakan dukungan gerakan ini.

Cinta Quran Foundation menggelar program belajar Alquran 1 hari 6 jam. Program yang berjalan selama Ramadan ini berhasil membebaskan 50 ribu umat Islam dari buta aksara Alquran.

” Kita pergi ke kota-kota besar lalu kita sholat tarawih bersama diimami oleh Syek dan disitu kita mulai sama-sama menyadarkan umat untuk membaca Alquran” ujar Ustaz Fatih.

Dua Pemenang Umroh Gratis Bareng Jannah Travel

Jannah Travel mengumumkan dua pemenang Program Umroh Gratis. Pemenang ditentukan secara acak dan langsung diumumkan pada Selasa, 3 Juli 2018 pukul 17.00 WIB.

” Ada kurang lebih 3800 nama yang sudah ikut undian, nama-nama ini dikumpulkan saat kami dan Cinta Quran Foundation berkunjung ke masjid-masjid di kota besar” ujar Irwansyah.

Dua nama yang beruntung tersebut adalah Hj. Syamsiyah asal Makassar dan Maksid Efendy asal Cibubur.

Kedua pemenang berhak atas hadiah umroh gratis dan akan diberangkatkan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.

 

 

 

sumber : dream.co.id

Cahaya Quran di Tanah Nuu Waar

Cahaya Quran di Tanah Nuu Waar

Belajar Quran dari Sorong hingga Raja Ampat

Dini hari pada 10 Februari lalu, dalam upaya pengentasan buta aksara Quran, Ustadz Fatih Karim, para trainer dan kru Cinta Quran berangkat menuju Kota Sorong, Papua Barat. Setelah 10 jam perjalanan ditempuh, Tim Cinta Quran tiba di Bandara Dominique Edward pada sore harinya dan disambut dengan hangat oleh panitia lokal setempat.

Meski dengan medan dan fasilitas yang cukup sulit dipenuhi selama proses penyiapan kelas, panitia setempat bersama Tim Cinta Quran tetap mempersiapkan dengan maksimal pelatihan membaca Quran ini. Bagi kami, di mana pun dan kapan pun kegiatan program Indonesia Bisa Baca Quran harus selalu membuat proses belajar dan mengajar sesuai dengan tujuannya.

Alhamdulillah, selama di Kota Sorong kami dapat membuka 1 kelas pelatihan baca Quran yang diselenggarakan di Masjid Al-Amin. Dalam kelas ini terdapat 25 orang peserta pelatihan dari penduduk di sekitar Kota Sorong. Kemudian ada juga1 kelas yang dibuka di Kabupaten Sorong dan dihadiri oleh 23 peserta pelatihan.

Pada hari kedua, kami melaksanaka pelatihan di Lembaga Pemasyarakatan Sorong. Di Lapas ini syukur Alhamdulillah peserat semakin banyak yang diikutkan menjadi peserta selama 6 jam pelatihan . Total peserta di Lapas Sorong mencapai lebih dari 80 orang yang dilaksanakan dalam 2 kelas berbeda.

Pada hari ketiga, Tim Cinta Quran beranjak dari daratan pulau Irian untuk kemudian melanjutkan mengadakan kelas pelatihan ke Kabupaten Raja Ampat. Suatu pulau dan wilayah perairan yang begitu indah dan dikenal banyak orang sehingga menjadi destinasi wisata, baik oleh pengunjung domestik mau pun mancanegara. Di Raja Ampat juga peserta tidak kalah banyak dengan di Kota Sorong, yakni mencapai 62 orang peserta pelatihan. Tak ketinggalan para trainer Cinta Quran dan kru menikmati keindahan pantai yang Allah Hamparkan dengan pemandangan yang luar biasa tersebut.

 

Membangun Jiwa Qurani Suku Kokoda

Salah satu suku asli di Bumi Nuu Waar, Papua, adalah suku Kokoda. Ia merupakan suku lokal yang bermukim di Provinsi Papua Barat. Meskipun sepanjang luas tanah Papua memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah dan patut disyukuri, namun masih banyak dari penduduk lokal, termasuk suku Kokoda, yang belum dapat terpenuhi kebutuhan kesehariannya. Penduduk juga berkisah bahwa mereka sebelumnya banyak tinggal di daerah dataran tinggi atau perbukitan. Namun dengan banyaknya pembangunan, baik itu tambang maupun proyek-proyek infrastruktur, menyebabkan mereka secara tidak langsung terusir dari pedalaman tempat mereka berasal. Akhirnya rumah-rumah mereka pun berdiri di tempat yang tak layak, bahkan tak jarak di dekat rawa.

Suku yang banyak bermatapencaharian sebagai pencari batu karang atau bertani ini banyak memeluk agama Islam. Namun, karena pendidikan yang belum merata dirasakan, menjadikan banyak dari suku Kokoda belum bisa membaca Quran. Bahkan tak sedikit juga yang belum cukup mengerti Bahasa Indonesia, apalagi membaca.

Dengan hadirnya program Indonesia Bisa Baca Quran di Sorong, menjadikan momen kali ini sebagai sebuah kesempatan belajar membaca Quran lebih mudah dan menyenangkan. Sebut saja Bu Rutsmayyah, seorang nenek 60 tahun asli Papua yang dengan semangat dan turut aktif selama kelas pelatihan. Padahal dengan umur yang sudah kepala enam ini, tidak banyak orang tua yang memiliki kemauan untuk belajar lagi. Atau ada juga Pak Ahmad, seorang yang ditokohkan di kalangan suku Kokoda yang dengan sedih bercerita tentang keadaan muslimin dan pendidikan Islam di Sorong yang sangat kekurangan guru ngaji untuk menjaga perkembangan Islam di sana.

Merindu Nuansa Quran di Nawangan Pacitan

Merindu Nuansa Quran di Nawangan Pacitan

Sambutan Hangat Pak Mukhlis

Pak Mukhlis adalah seorang lak-laki paruh baya yang lumpuh salah satu kakinya, sehingga beliau menggunakan kruk untuk membantunya berjalan dengan baik. Yang unik dari beliau bukan tentang kelumpuhannya, tapi bahwa ia merupakan salah satu volunteer turut membantu program gerakan Indonesia Bisa Baca Quran di Kabupaten Pacitan. Kekurangan yang beliau miliki, bukan menjadi halangan untuk beliau beraktifitas, justru menjadi semangat tersendiri dalam kesehariannya.

Hebatnya lagi, meski medan jalan pedesaan Nawangan ini cukup payah dilalui, Pak Mukhlis sudah mengakalinya. Untuk bepergian jauh, beliau memiliki mobil tua yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa dikendarai hanya dengan menggunakan tangan. Juga terdapat motor dengan seat samping dua roda yang beliau kendarai di keseharian ketika tidak terlalu banyak barang bawaan.

Sejak kedatangan Crew Cinta Quran pada 12 Februari 2018 Pagi di Klaten hingga menuju Pacitan, kami memanggilnya dengan panggilan “Pak Bambang”. Lucuya, setelah beberapa hari di Desa Nawangan, ternyata orang-orang sekitar mengenal beliau dengan nama “Mukhlis”. Tanpa memperdalam sebab musabab atau bertanya nama asli beliau, kami pun akhirnya ikut pula memanggil beliau dengan sebutan itu.

 

Semangat Kembali Mengaji

Nawangan merupakan suatu Kecamatan di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Karena jaraknya begitu jauh dari perkotaan, kawasan ini juga minim memiliki jalan-jalan besar nan bagus untuk akses ke beberapa tempat berkumpulnya penduduk. Pun saat musim penghujan datang, mulai banyak jalan yang terkena longsoran tanah di atasnya sehingga lebih menyulitkan lagi dalam bertransportasi.

Namun daripada tentang infrasturktur, hal yang perlu Crew Cinta Quran khawatirkan di sana adalah tidak sedikit warga yang belum dapat membaca huruf latin (alphabet) serta kurangnya sumber daya manusia yang menjadi guru ngaji bagi masyarakat. Hal ini diungkapkan warga saat sesi terakhir dalam program Pelatihan Indonesia Bisa Baca Quran yang diselenggrakan selama 3 hari dan 4 tempat berbeda di Mbakalan, Netep, Ngromo dan Nawangan.

Semoga dengan kehadiran Cinta Quran di Kecamatan Nawangan dapat menjadi jalan kebaikan untuk para warga muslim Nawangan. Dukung terus Cinta Quran Foundation untuk terus istiqomah berjuang membebaskan Buta Aksara Quran di Indonesia dengan menghadirkan Satu juta kelas di seluruh penjuru
negeri.